Pengertian Manajemen data

Posted on 7:44 PM



Sistem Pengolahan Data

Posted on 7:39 PM
Sistem Pengolahan Data


System pengolahan data adalah system pengolahan data. Dalam pandangan kita, system pengolahan data adalah sama dengan system akuntansi. Pndangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada mulanya computer hnaya diterapkan untuk tugas akuntansi dan, penggunaanya disebut pengolahan data elektronik atau EDP.

 empat jenis pengolahan data :

- system manual. System pertama adalah manual system ini hanya terdiri atas orang pulpen, pensil, dan buku besar (ledger) untuk membuka entri. Buku besar menggambarkan recod dari operasi perusahaan.

- Mesin keydriven, penemuan mesin ini seperti cas register, mesin ketik dan kalkulator meja

meringankan tugas pengurusan data yang besar.

- Mesin punched card, dengan cara yang sama sejumlah organisasi yang besar mencatat transaksi mereka dalam benituk punched card (kartu berlubang) dan menggunakan mesin puched card pemeliharaan dan pengolahan file yang penting.

- Computer. Sekarang, semua organisasi yang besar dan sebagian besar organisasi yang lebih

kecil mengandalkan computer untuk melakukan mayoritas pengolahan data mereka.



Era permulaan database ditandai dengan :
  1.  Pengulangan data 
  2.  Ketergatungan data
  3.  Kepemilikan data yang tersebar

Konsep Database
  • ™ Yaitu integrasi logis dari catatan-catatan file. 
  •  ™ Tujuan dari konsep database adalah meminimumkan pengulangan dan mencapai independensi data.
  • ™ Independensi data adalah kemampuaan untuk membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program yang memproses data.
  • ™ Independensi data dicapai dgn menempatkan spesifikasi dalam tabel & kamus yg terpisah secara fisik dari program.
  • ™ Program mengacu pada tabel untuk mengakses data.
 Saat mengadopsi konsep database, Struktur Database menjadi :

• Database

• File

• Catatan

• Elemen data



Sistem Pengolahan Data Sample


data sample digunakan oleh perusahaan distribusi yaitu perusahaan yang mendistribusikan barang dan jasa kepada para pelanggannya.kita namakan system tersebut dengan system distribusi.


PENYIMPANAN SEKUNDER


1. Penyimpanan Berurutan (Sequential Access Storage Device)
  • Suatu organisasi / penyusunan data di suatu medium penyimpanan yang terdiri darisuatu catatan mengikuti satu catatan lain dalam suatu urutan tertentu .
  • Contoh pita magnetik yg digunakan untuk menyimpan data komputer memiliki bentukfisik yg sama dengan pita audio.
  •  Penyimpanan Akses Langsung (Direct Access Storage Device)™ Cara mengorganisasikan data yang ditulis dan dibaca tanpa pencarian secara berurutan. ™ DASD dapat diarahkan ke lokasi manapun dalam medium penyimpanan dan digunakan sebagai media input.


PEMROSESAN DATA


1. Pemrosesan Batch

9 Pengumpulan transaksi dan pemrosesan semua sekaligus dalam batch.

9 kelemahan dari pemrosesan ini manajemen tidak selalu memiliki informasi mutakhir yg

menggambarkan sistem fisik.

2. Pemrosesan On-Line

Pengolahan transaksi satu per satu, kadang saat terjadinya transaksi, karena pengolahan on- line berorientasi transaksi.

3. Sistem Real Time

Sistem yang mengendalikan sistem fisik, dimana sistem ini mengharuskan komputer berespon cepat pada sistem fisik.



DOKUMENTASI SISTEM

Dokumentasi system menggunakan diagram arus data (DFD) untuk menggambarkan system kita harus mengetahui salah satu dari fasilitas utama tujuanya adalah untuk mendokumentasi logika system dan logika tersebut dijalankan oleh segala jenis system yaitu manual, key driven, computer.


TINJAUAN SINGKAT MENGENAI SISTEM

Diagram kontek menggambarkan system dalam konteksnnya dengan lingkungannya sistem distribusi digambarkan sebagai sebuah persegi panjang tegak lurus, dengan tanda panah yang menggambarkan data yang mengalir antara sistem dan lingkunganya. Elemen lingkungan digambarkan dengan persegi panjang yang lebih kecil.


SUBSISTEM UTAMA DARI SISTEM DISTRIBUSI

Diagram kontek cocok untuk menentukan wilayah sistem yaitu elemen lingkungan dan interface. Sub sistem di definisikan dengan sebuah persegi panjang. Sub sistem yang pertama berkenaan dengan pemenuhan pemesanan pelanggan yang kedua berkenaan dengan penambahan stok dari pemasok dan yang ketiga berkenaan dengan pemeliharaan atau kepengurusan buku besar perusahaan.









Membuat aplikasi pengolahan Database

Posted on 6:59 PM
Perancangan Sistem Informasi

Keamanan Jaringan

Posted on 12:21 AM

Etika, Etiket dan Moral

Posted on 12:13 AM




Algoritma syntak Kubus dan Lingkaran

Posted on 11:11 PM


Pengertian Microsoft Power Point

Posted on 7:01 AM

Pengertian CD,DVD,VCD

Posted on 6:56 AM

Pengenalan, perkembangan Ipv6 pada linux

Posted on 6:50 AM


PERBEDAAN SYSTEM NTFS, FAT DAN FAT 32

Posted on 6:41 AM

Pengertian Hardware

Posted on 6:37 AM

Memori dan Media Penyimpanan

Posted on 6:00 AM
BAB VI
SISTEM BILANGAN DAN
KODE YANG MEWAKILI DATA


A.    PENDAHULUAN
Deskripsi Singkat
Bab ini mengemukakan tentang sistem bilangan yang terdiri dari sistem bilangan biner, sistem bilangan octal, sistem bilangan hexadesimal dan sistem bilangan desimal serta konversi antara sistem bilangan. Disamping itu juga membahas tentang kode yang mewakili data berupa BCD, SBCDIC, EBCDIC, dan ASCII 7-bit.
Relevansi
            Pembahasan bab ini penting dipahami karena sistem bilangan merupakan dasar yang sangat membantu dalam melakukan perhitungan-perhitungan, maupun menjalankan logika-logika dalam suatu operasi didalam sistem komputer.  
Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan sistem bilangan dan kode yang mewakili data.
B.     PENYAJIAN
1.  Sistem Bilangan
Sistem bilangan adalah suatu cara untuk mewakili besaran dari suatu item phisik. Sistem bilangan menggunakan suatu sistem bilangan dasar atau basis (base atau disebut dengan radix) yang tertentu. Basis yang dipergunakan masing-masing sistem bilangan tergantung dari jumlah nilai bilangan yang dipergunakan. Sistem Bilangan yang digunakan dikomputer (Hartono, 1999) meliputi:
1.            Sistem bilangan biner dengan basis 2, menggunakan 2 macam simbol yaitu 0 dan 1. kalau dalam computer adalah on dan of atau true dan false (benar dan salah).
2.            Sistem bilangan octal dengan basis 8, menggunkan macam simbul 0,1,2,3,4,5,6, dan 7.
3.            Sistem bilangan hexadecimal dengan basis 16, menggunakan macam simbul 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E dan F.
4.            Sistem bilangan decimal dengan basis 10, menggunakan macam simbul bilangan 0,1,2,3,4,5,6,4,7,8 dan 9.
Sistem  bilangan mempunyai basis atau dasar bilangan tertentu, absolute digit, dan I positional value atau nilai posisi. Bilangan-bilangan tersebut trdiri dari:
Nama
Base 
Absolute Digit
Binary
2
01
Ternary
3
012
Quartenary
4
0123
Quinary
5
01234
Senary
6
012345
Septenary
7
0123456
Octanary (actal)
8
01234567
Nonary
9
012345678
Denary (decimal)
10
0123456789
Undery
11
0123456789A
Duodenary
12
0123456789AB
Tredenary
13
0123456789ABC
Quartuordenary
14
0123456789ABCD
Quidenary
15
0123456789ABCDE
Hexadenary (hexadecimal)
16
0123456789ABCDEF

Dari bilangan tersebut hanya akan dibahas 4 sistem bilangan, yaitu:

  1. Sistem Bilangan Binary
Bilangan binery hanya mengenal angka 0 dan 1, sehingga bilangan biner mempunyai base 2. Dengan demikian kenaikan nilai pada bilangan binary merupakan angka 2 pangkat n(2ⁿ), untuk lebih jelasnya lihat Contoh:
    27          26           25            24       23      22      21     20
            128       64       32       16        8       4       2      1
            Contoh:
 Bilangan bulat:
11100010 mempunyai nilai decimal: 226
    27            26           25             24       23                  22          21        20
128         64       32        16        8       4          2          1
   1           1        1          0        0          0          1          0
128   +   64   +  32  +   0   +   0    +   0    +    2    +    0  = 226
Bilangan pecahan:
1110.010 mempunyai bilangan decimal: 14¼
27            26            25            24         23         22          21        20     .    2-4        2-2
          128         64       32        16        8          4          2          1     .    ½         ¼
                                                1          1          1          0     .    0          1
            8    +  4    +     2          0     .    0  +  ¼  = 14¼

Penjumlahan:
Pada bilangan binary bila angka yang dijumlahkan lebih dari 1. Akan dipindahkan carry angka 1 ke angka sebelah kiri.
Untuk lebih jelasnya lihat rumus di bawah ini:
1.      0 + 0 = 0
2.      1 + 0 = 1
3.      0 + 1 = 1
4.      1 + 1 = 0 dan carry adalah 1
Contoh:
      111  1                 carry
00001101
10011101  +
         10101010                 hasil penjumlahan
Pengurangan:
Pada bilangan binary bila angka yang akan di kurangi masih belum dapat mencukupi nilainya, maka akan dipindahkan (carry) angka 1di sebelah kiri.
Untuk lebih jelasnya lihat rumus dibawah ini:
1.      0 – 0 = 0
2.      1 – 0 = 1
3.      0 – 1 = 1 dan carry yang diambil di sebelah kiri.
4.      1 – 1 = 0
Contoh:
               11    1                 carry
10110110
      11101  +
         10011001                 hasil penjumlahan
Perkalian
Perkalian bilangan binary dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan perkalian bilangan decimal.
Untuk lebih jelasnya lihat rumus dibawah ini:
0 x 0 = 0
0 x 1 = 0
1 x 0 = 0
1 x 1 = 1

Contoh:
                                    1110
1100    x
0000
                                              0000
                                            1110
1110                  +
                                         10101000
Pembagian
Pembagian bilangan binary dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan pembagian bilangan decimal. Pembagian dengan digit biner 0 tidak mempunyai arti.
Untuk lebih jelasnya lihat rumus dibawah ini:
0 : 1 =  0
1 : 1 =  1
Contoh:
101         1111101       11001   
               101
                  101
                 101
                      0101
                         101
                           0

b.      Sistem Bilangan Octal
Bilagan octal mempunyai base 8, yaitu terdiri dari angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Dengan demikian setiaqp kenaikan nilai pada bilangan octal merupakan angka 8 pangkat n (8ⁿ), untuk lebih jelasnya, lihat kenaikan angka pada bilangan actal dibawah ini:
83         82          81        80    

Contoh:
Bilangan octal: 1213 mempunyai nilai decimal : 651
1 x  83  +  2  x  82  +  1 x  81  +  3  x  80  = 1 x 512 + 2 x 64 + 1 x 8 + 3 x 1 = 512 + 128 + 8 + 3 = 651
Atau ditulis dengan notasi:
1213 8 = 65110
Penjumlahan
Penjumlahan bilangan octal dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan penjumlahan bilangan decimal.
Untuk lebih jelasnya lihat dapat lihat contoh dibawah ini:
            25
          127  +
          154
Langkah penyelesaianya adalah:
            510 + 710                       = 1210 =148
            210 + 210 + 110              = 510    = 58
            110                                = 110    = 18
Pertambahan octal dapat juga dilakukan dengan bantuan table dibawah ini:

0
1
2
3
4
5
6
7
0
0
1
2
3
4
5
6
7
1

2
3
4
5
6
7
10
2

4
5
6
7
10
11
3

6
7
10
11
12
4

10
11
12
13
5

12
13
14
6

14
15
7

16
Tabel pertambahan digit octal.
Dengan menggunakan tabel maka pertambahan menjadi:
Contoh :
25
          127  +
            14
            4
          1       +
          154
Pengurangan
Pengurangan bilangan octal dapat dilakukan dengan menggunakan table pertambahan digit octal
Contoh :
            154
            127   -
              25

Perkalian
Perkalian octal dapat dilakukan dengan menggunakan table:

0
1
2
3
4
5
6
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

1
2
3
4
5
6
7
2

4
6
10
12
14
16
3

11
14
17
22
25
4

20
24
30
34
5

31
36
43
6

44
52
7

61
Tabel perkalian digit octal
Contoh:
             16
             14  +
             70
           16    +
           250

Pembagian
Pembagian octal dapat dilakukan dengan cara seperti pembagian decimal:
Contoh:
14         250       16   
            14   -
             110
            110   - 
               0

c.       Sistem Bilangan Hexadesimal
Bilangan hexadesimal mempunyai base, yaitu terdiri dari angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 ditambah huruf A, B, C, D, E, dan F sebagai realisasi angka 10 sampai 15. Dengan demikian setiaqp kenaikan nilai pada bilangan hexadesimal merupakan angka 16 pangkat n (16ⁿ), untuk lebih jelasnya, lihat kenaikan angka pada bilangan actal dibawah ini:
164       163       162        161      160    
Contoh:
Bilangan hexadesimal: 7AB1 mempunyai nilai decimal : 31409
164       163       162        161      160    
                       65536   4096     256           16          1
                              X         X         X           X       
                              7          10        11            1
                       28672  +  2560  +  176   +  1  =  31409

Penjumlahan
Penjumlahan hexadecimal dapat juga dilakukan dengan bantuan tabel sebagai berikut :


0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
1

2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
10
2

4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
10
11
3

6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
10
11
12
4

8
9
A
B
C
D
E
F
10
11
12
13
5

A
B
C
D
E
F
10
11
12
13
14
6

C
D
E
F
10
11
12
13
14
15
7

E
F
10
11
12
13
14
15
16
8

10
11
12
13
14
15
16
17
9

12
13
14
15
16
17
18
A

14
15
16
17
18
19
B

16
17
18
19
1A
C

18
19
1A
1B
D

1A
1B
1C
E

1C
1D
F

1E


















Tabel Penjumlahan Digit Hexadesimal
Dengan menggunakan table maka pertambahan menjadi:
Contoh:          CBA
             627   +
               11
               D
            12    +
           12E1

Pengurangan
Pengurangan bilangan hexadesimal dapat dilakukan dengan menggunakan table pertambahan hexadecimal.
Contoh:
BAD
4 3 1 -
FDE

Perkalian
Perkalian hexadesimal dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan tabel berikut :

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
2

4
6
8
A
C
E
10
12
14
16
18
1A
1C
1E
3

9
C
F
12
15
18
1B
1E
21
24
27
2A
2D
4

10
14
18
1C
20
24
28
2C
30
34
38
3C
5

19
1E
23
28
2D
32
37
3C
41
46
4B
6

24
2A
30
36
3C
42
48
4E
54
5A
7

31
38
3F
46
4D
54
5B
62
69
8

40
48
50
58
60
68
70
78
9

51
5A
63
6C
75
7E
87
A

64
6E
78
82
8C
96
B

79
84
8F
9A
A5
C

90
9C
A8
B4
D

A9
B6
C3
E

C4
D2
F

E1
Tabel Perkalian Digit Hexadesimal
Contoh:
            A C
             1 B   +
             8 4
          6 E
             C
          A    +
          1224
Pembagian
Pembagian hexadesimal dapat dilakukan dengan cara seperti pembagian decimal:
Contoh:
1B       1224       AC   
            10E   -
             144
            144   - 
               0

d.      Sistem Bilangan Desimal
Bilagan desimal mempunyai base 10, yaitu terdiri dari angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 Dengan demikian setiap kenaikan nilai pada bilangan desimal merupakan angka 10 pangkat n (10ⁿ), untuk lebih jelasnya, lihat kenaikan angka pada bilangan actal dibawah ini:
104       103       102        101      100    
Bilamgan decimal inilah yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, yaitu satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya.
Contoh:
13867, terdiri dari 10000 + 3000 + 800 + 60 + 7
Bilangan-bilangan diatas dapat dikonversikan ke bilangan lain, seperti:
Konversi dari bilangan biner ke dalam bilangan octal, decimal dan hexadecimal dan begitu pula sebaliknya dari octal, decimal, dan hexadecimal ke bilangan biner.
Konversi biner ke octal
Caranya: angka pada bilangan biner dibagi menjadi 3 yang dihitung dari belakang.
Contoh:
011100101 akan dikonversi ke bilangan octal
Bilangan biner:  0      1      1      1      0      0      1      0      1
Position value:   02 + 21  + 20     22 + 01  + 00     22 + 01  + 00  
                           0  + 2   + 1      4   + 0   + 0      4  +  0   +  0
                                    3                      4                      5 
Jadi angka 011100101(biner) = 345 (octal)

Konversi Biner Ke Desimal
Caranya: angka dalam bilangan biner tersebut dikalikan dengan positin value. Setelah dikalikan, jumlahkan semua angka tersebut.
Contoh:
11100101 bilangan biner akan dikonversi ke bilangan desimal
Bilangan biner:       1      1      1      0      0      1      0      1
                                X    X     X     X     X     X     X       X
Poin value:            27    26       25     24     23       22      21       20    
                            128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 6 + 2 +1 = 225
Jadi angka 11100101 (biner) = 225 (decimal)

Konversi Biner Ke Hexadesimal
Caranya: angka dalam bilangan biner tersebut dibagi menjadi 4 yang dihitung dari belakang dan bila angka tersebut tidak dapat dibagi 4, sisanya ditambah dengan 0.
Contoh:
11100101 bilangan biner akan dikonversi ke bilangan hexadesimal

Bilangan biner:        1      1      1       0      0      1      0      1
Position value:         23 + 22  + 21  +  00      03  + 22 +  01 + 20  
                                8   + 4   + 2   + 0       0  + 4  +  0   +  1
                                                14                        5
Jadi angka 011100101(biner) = E5 (hexadesimal)

Konversi Oktal ke Biner
Caranya: setiap angka dalam bilangan octal diwakili oleh 3 angka pada bilangan biner.
Contoh:
11100101 bilangan biner akan dikonversi ke bilangan hexadesimal
Bilangan octal:        3                        4          5
                             011           100    101
Jadi angka 345(oktal) = 011100101 (biner)
Konversi Desimal ke Biner
Caranya: kurangi angka decimal tersebut dengan angka biner yang mendekati, namun angak biner tersebut harus lebih rendah dari bilangan desimalnya.
      Bilangan decimal: 345
 29        28        27        26       25     24     23       22      21       20    
512   256    128    64     32   16   8     4     2       1
         345
                             89(345-256)
                                              25(89-64)
                                                          9(25-16)
                                                                         1(9-8)
                        1        1          0       1         1      0      0         1
            Jadi angka 345 (decimal) =11011001(biner)
Konversi Hexadesimal Ke Biner
Caranya: setiap bilangan hexadecimal akan diwakili oleh 4 angka biner.
Contoh:bilangan hexadecimal 45E akan dikonversi ke bilangan decimal.
Bilang hexsadesimal:                      4          5          E
                                             0100     1010     1110
Jadi angka 45E (hexadecimal) = 010010101110 (biner)

Konversi Oktal ke Desimal
Caranya: kalikan masing-masing bilangan pada bilangan octal dengan positin value. Setelah dikalikan, lalu jumlahkan  semua.
Contoh:
Bilangan octal           2          5          5
                                    X         X         X
                                    82            81         80    
                                    128 +   40   +   5 = 173
Jadi angak octal 255= 173 desimal

Konversi Oktal Ke Hexadesimal
Caranya: ubah terlebih dahulu ke dalam bentuk binery, kemudian ybah ke dalam bentuk hexadecimal:
Contoh                                               3          4          5
                                             011         100      101
Jadi angka 345 (octal ) = 011100101(hexadecimal)

Konversi Desimal Ke Oktal
Caranya: Bilangan decimal dibagi dengan angka 8 sebagai basis dari bilangan octal.

Contoh: Bilang desimal:     255 : 8 = 31 sisa 7
31      : 8 = 3 sisa 7
3
Jadi angka 255 (decimal) = 773 (octal)

Konversi Hexadesimal Ke Oktal
Caranya: ubah terlebih dahulu ke dalam bentuk binery, kemudian ubah ke dalam bentuk octal.
Contoh.
Bilang hexsadesimal:                      E          D        
1110              0101
Dari bilangan biner tersebut konversikan kedalam bentuk octal.
         0     1      1         1       0      0         1      0      1
                     02    21     20       22       01     00             22   01      20
                                0   + 2   + 1        4   +  0  + 0          4 +  0  +  1
                                         3                       4                         5
Jadi angka ED(hexadecimal) = 345 (octal)

Konversi Desimal  ke hexadesimal
Caranya: bilangan decimal dibagi dengan 16 sebagai basis dari bilangan hexadesimal
Contoh:
Bilangan desimal     255: 16 = 15 sisa 15
                                    15
Jadi angak desimal 255= FF Hexadesimal

Konversi hexadesimal  ke Desimal
Caranya: kalikan masing-masing bilangan pada bilangan hexadesimal dengan positin value. Setelah dikalikan, lalu jumlahkan  semua.
Contoh:
Bilangan hexadesimal         15        15       
                                                X         X        
                                                161         160                       
                                                240 +   15 = 255
Jadi angak FF (hexadecimal)= 255 desimal
2.  Kode Bilangan Yang Mewakili Data
Data disimpan di computer pada main memory untuk diproses. Sebuah karakter data disimpan dalam main memory menempati posisi 1 byte.
Komputer generasi pertama, 1byte terdiri dari 4 bit, komputer generasi kedua, 1 byte terdiri dari 4bit, dan computer generasi sekarang kebanyakan 1 byte terdiri dari 8 bit. Suatu karakter data yang disimpan di main memory diwakili dengan kombinasi digit binary (bit). Dengan dasar system bilangan yang sudah dibahas sebelumya, dapat dipergunakan suatu kode binary untuk mewakili suatu karakter.
Suatu komputer yang berbeda menggunakan kode binary yang berbeda-beda mewakili suatu karakter. Dalam (Setiawan, 2003), komputer yang 1 byte terdiri dari 4 bit, menggunakan kode binarty yang berbentuk kombinasi 4 bit, yaitu BCD (Binary Coded Decimal). Komputer yang menggunakan  6 bit untuk 1 bytenya, menggunakan kode binary yang terdiri dari kombinasi 6 bit, yaitu SBCDIC (Standar Binary Coded Decimal Interchange Code). Computer yang 1 byte terdiri dari 8 bit, menggunakan kode binary yang berbentuk kombinasi 8 bit, yaitu EBCDI (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code) atau ASCCI (Ameritcan Standard Code For Information Interchange).


a.  BCD
BCD (Binary Coded Decimal) merupakan kode binary yang digunakan hanya untuk mewakili nilai digit decimal saja, yaitu nilai angka 0 sampai dengan 9. BCD merupakan kombinasi dari 4 bit, sehingga sebanyak 16 (24 = 16) kemungkinan kombinasi yang dapat di peroleh dan hanya 10 kombinasi yang di pergunakan.
Tabel BCD
Digit Desimal
BCD-4 Bit
0
0000
1
0001
2
0010
3
0011
4
0100
5
0101
6
0110
7
0111
8
1000
9
1001

Kode BCD yang orisinil sudah jarang dipergunakan untuk computer generasi sekarang, karena tidak dapat mewakili huruf atau simbul/karakter khusus. BCD digunakan pada computer generasi pertama.
b.  SBCDIC
SBCDIC (Standar Binary Coded Decimal Interchange Code) merupakan kode binary perkembangan dari BCD. BCD dianggap tanggung, karena masih ada 6 kombinasi yang tidak dipergunakan, tetapi tidak dapat dipergunakan untuk mewakili karakter yang lain.
SBCDIC menggunakan kombinasi 6 bit sehingga lebih banyak kombinasi yang dihasilkan, sebanyak 64 (26 = 64) kombinasi kode yaitu 10 kode untuk digit angka, 26 kode untuk huruf dan sisanya karakter khusus yang dipilih.
Posisi bit di SBCDIC dibagi menjadi 2 zone, yaitu 2 bit pertama diberi nama bit ( A dan B ) disebut dengan alpha bit position dan 4 bit berikutnya (diberi nama bit 8, bit 4, bit 2, dan bit 1) disebut numeric bit position.
Zone Bit
Numeric Bit
A
B
8
4
2
1







Table SBCDIC
Character
Zone
Digit
A – I
11
0001 – 1001
J – R
10
0001 – 1001
S – Z
01
0010 – 1001
1 – 0
00
0001 -1010

c.  EBCDIC
EBCDI (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code) terdiri dari kombinasi 8 bit yang memungkinkan untuk mewakili karakter sebanyak 256 (28 = = 256) kombinasi karakter.
Pada EBDIC high order bits atau 4 bit pertama disebut zone bits, sedangkan low order bits atau 4 bit ke dua disebut dengan numeric bits.


Zone Bit
Numeric Bit
1
2
3
4
5
6
7
8









Table EBCDIC
Character
Zone
Digit
A – I
1100
0001 - 1001
J – R
1101
0001 – 1001
S – Z
1110
0010 – 1001
0 – 9
1111
0000 – 1001
a – i
1000
0001 – 1001
j – r
1001
0001 – 1001
s - z
1010
0010 – 1001

d.  ASCII 7-bit
ASCCI (Ameritcan Standard Code For Information Interchange) atau ada  yang menyebut dengan American Standard Comite On Information Interchange dikembangkan oleh ANSI (American national standads insitut) untuk tujuan membuat kode biner standar. Kode ASCII yang standar menggunakan kombinasi 7 bit, dengan kombinasi kode sebanyak  127 dari 128 (27 = 128) kemungkinan kombinasi yaitu:
26 huruf capital (A s/d Z)
26 huruf kecil (a s/d z)
10 digit decimal (0 s/d 9)
34 karakter control yang tidak dapat dicetak hanya digunakan untuk informasi status operasi computer.
32  karakter khusus.

Table ASCII 7-bit
Character
Zone
Digit
0 – 9
001
0000 – 1001
A – O
100
0001 – 1111
P – Z
101
0000 – 1010
a – o
110
0001 – 1111
p – z
111
0000 – 1010

C.    PENUTUP
Sistem bilangan adalah suatu cara untuk mewakili besaran dari suatu item phisik. Pada komputer data yang dipresentasikan sebagai bilangan-bilangan yang hanya dimengerti oleh komputer itu sendiri atau yang disebut bilangan biner. Sistem bilangan yang banyak dipergunakan oleh manusia adalah sistem bilangan desimal, yaitu sistem bilangan yang menggunakan 10 macam simbol untuk mewakili suatu besaran. Sistem bilangan menggunakan suatu bilangan dasar atau basis (base atau disebut juga radix) yang tertentu. Basis yang dipergunakan masing-masing sistem bilangan tergantung dari jumlah nilai bilangan yang dipergunakan.

a.      Pertanyaan
1.      Jumlahkan :
a.   00110001              b. 01010111
            00101100                  10000011
Kurangkan :
c.   01100110              d. 10011000
                    1011                        10011
2.      Konversikan masing-masing bilangan dibawah ini :
a. 111001012   = ...................10
b. 011010112   = ...................8
c. 45E16           = ...................2
d. 25410               = ...................16
b.     Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Anda dapat mengusai materi ini apabila membuat ringkasan dalam bentuk peta konsep dan aktif dalam diskusi kooperatif.
Cocokkan hasil jawaban anda dengan panduan kunci jawaban dibawah ini, bila jawaan anda mencapai 80 % ke atas, anda dapat melanjutkan dengan kegiatan belajar selanjutnya. Kalau tingkat penguasaan anda di bawah 80 % anda harus mengulangi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian yang tidak anda kuasai.

c.       Kunci Jawaban
1. a.  00110001                       b. 01010111
      00101100 +                        10000011 +
      11011101                           11010110

 c.  01100110                       d. 10011000
           1011 -                               10011 -
01111011                           10001001

2.   a. 111001012         =..................10
11100101 bilangan biner akan dikonversi ke bilangan desimal
Bilangan biner:       1      1      1      0      0      1      0      1
                                            X    X     X     X     X     X     X       X
Poin value:            27    26       25     24     23       22      21       20    
                                        128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 6 + 2 +1 = 225
Jadi angka 11100101 (biner) = 225 (decimal)
b. 0111011012         = ...................8
011100101 akan dikonversi ke bilangan octal
Bilangan biner:  0      1      1      1      0      0      1      0      1
Position value:   02 + 21  + 20     22 + 01  + 00     22 + 01  + 00  
                                       0  + 2   + 1      4   + 0   + 0      4  +  0   +  0
                                                3                      4                      5 
Jadi angka 011100101(biner) = 345 (octal)
c. 45E16     =    Bilang hexsadesimal:       4           5           E
                                                                        0100     1010     1110
Jadi angka 45E (hexadecimal) = 010010101110 (biner)
d. 25510       =    Bilangan desimal           255: 16 = 15 sisa 15
                                                            15
Jadi angka desimal 255= FF Hexadesimal

D.    DAFTAR PUSTAKA
1.      Hartono, J. M, 1999. Pengenalan Komputer. Andi Yogyakarta
2.      Kadir, Abdul & Terra Ch. Triwahyuni, 2003. Pengenalan Teknologi Komputer. Andi Yogyakarta.
3.      Nazarudin, Ramdani, 2005. Komputer & Trouble Shooting. Informatika Bandung.
4.      Setiawan, Agung, 2003. Pengantar Sistem Komputer. Informatika Bandung.
5.      Wahana Komputer Semarang, 2004. Pedoman Praktis Perakitan dan Pengelolaan Perangkat Komputer. Salemba Infotek.

jam

Tri Dayanti Unsur Cianjur. Powered by Blogger.